Dua Jurnalis Boltim dan Kisah Ditempa Mapatik

Oleh: Matt Rey Kartoredjo

BOLTIM, TotabuanExpress.co.id – Kalfein Wuisan, penulis dari Komunitas Mapatik pernah berucap: “Menulis adalah alat untuk melawan. Melawan apa? Melawan lupa, melawan ketidakadilan, dan yang paling penting menulis bisa menginspirasi orang banyak”.

Bacaan Lainnya

Ungkapan tersebut yang menginspirasi kami, dua jurnalis asal Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Matt Rey Kartoredjo dan Cindi Limo.

Pada Jumat (03/10/19), kami mengunjungi Rumah Aliansi Masyarakat  Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara (Sulut) di Kelurahan Sasaran, Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Di sana, dilangsungkan pelatihan menulis jurnalistik yang digelar Mapatik. Maksud kedatangan kami untuk menambah pengetahuan dan mempertajam keterampilan menulis jurnalistik.

Sekitar pukul 14.50 WITA, kami berangkat dari Boltim menuju daerah Minahasa. Motor hitam, jenis Yamaha NMax, DB 2419 NL, mengantarkan kami ke sana.

Cindi memilih mengemudikan motor. Saya jadi boncengannya. Ia rupanya pengemudi yang ulung. Seperti seorang pembalap saja. Ia melaju dengan kecepatan 80 Km per jam. Membuat jarak Boltim dan Minahasa, terasa dekat. Tidak sampai 2 jam, kami tiba di daerah Tondano.

Baca Juga :   ASN Harus Jadi Contoh Yang Baik, Pesan Bupati Sachrul Pada Pembukaan Latsar CPNS Boltim

Di jalan menuju Tondano, ada kecelakaan lalu lintas. Kami melewatinya. Peristiwa ini membuat saya sedikit takut, bercampur trauma. Ditambah lagi, gaya mengemudi Cindi yang mirip pembalap.

Lantas, dengan sedikit bercanda, saya berkata padanya, “Utat, pelan-pelan aja, jangan anarkis, hehehe”. Mendengar itu, Cindi ikut tertawa.

“Hehehe. Tenang kua utat, jang talalu tako,” ujar Cindi.

Dalam perjalanan, kami sering berhenti. Menghabiskan beberapa batang rokok sebab hawa dingin Tondano mulai terasa.

Sekitar pukul 16.16 Wita, saya sedikit kebingungan. Walaupun sudah di daerah Tondano, tempat yang dituju, belum kami temukan.

Untunglah, tak lama kemudian ponsel saya berdering. Ternyata Director Komunitas Penulis Mapatik, Rikson Karundeng menelepon.

“Kalian baru di Tataaran masih jauh. Nanti saya kirim lokasinya,” ucap Rikson dari balik handphone.

Walaupun Rikson telah mengirim lokasi melalui WhatsAppnya, kami masih sedikit kebingungan. Namun, pada akhirnya kami menemukan lokasi yang dimaksud.

Setelah perjalanan seru dan mengasyikan, kami tiba di lokasi kegiatan menulis. Kami rupanya memang sudah ditunggu-tunggu oleh teman-teman Mapatik.

Sebelum pelatihan dimulai, kami menghabiskan waktu dengan berdiskusi sambil minum kopi.

Tak lama berselang, kegiatan pun dimulai.

Kami mengawali latihan dengan materi tentang menulis berita Straight News. Dilanjutkan dengan materi teknik wawancara.

Baca Juga :   Apresiasi Bupati Boltim Kepada Kedua Tim Pondabo FC Versus Bulawan Dua FC di Piala Al-Furqon Cup 2022

“Saya sangat senang mengikuti latihan menulis seperti ini, sebab apa yang kita belum tahu, semuanya akan kita ketahui,” tutur Cindi Limo, sahabatku.

Latihan di hari pertama, berlangsung dengan baik dan berakhir sekitar pukul 02.00 Wita.

Suhu di Tondano pada malam hari sangat dingin. Membuat tubuh menggigil. Apalagi saya dan Cindi berasal dari Boltim yang suhunya panas. Membuat kami tidak tahan dengan suhu dingin Tondano.
Saat tidur, saya dan Cindi hanya memakai jaket, celana panjang, dan kaos kaki. Dingin Tondano, menusuk sampai tulang. Saya merasa seperti berada di atas salju.
Satu malam saya terjaga. Menyaksikan teman-teman dari Tomohon tertidur nyenyak. Maklum, mereka sudah terbiasa dengan udara dingin. Tomohon dan Tondano memang dikenal dengan kota bersuhu dingin.

Sekitar pukul 08.00 WITA, teman-teman Mapatik mulai merapikan tempat untuk materi kegiatan selanjutnya. Usai minum kopi dan sarapan pagi, kami melanjutkan latihan.

Materi di hari kedua, kami ditugaskan untuk mewawancarai narasumber. Hasil wawancara, diolah dan dijadikan berita.

Di sesi materi itu, Director Mapatik, Rikson Karundeng menjelaskan bahwa menulis berita harus memperhatikan dua hal pokok yaitu kejelasan dan akurasi.

Baca Juga :   Sekretariat DPRD Boltim Salurkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Banjir Motongkat

“Menulis berita Straight News itu harus jelas dan akurat. Berita harus ringkas dan jelas tidak panjang lebar dan bertele-tele,” kata  Rikson.

Pukul 12.00 Wita, waktu istirahat makan siang. Kami menikmati menu yang sederhana namun terasa nikmat.
“Kamu pimpin doa makan,” kata Rikson.
Saya kaget.
Walau sedikit gugup, saya memimpin doa makan menurut tata cara agama Islam.
Usai doa, kami pun makan bersama.

Beberapa saat setelah makan, saya dan Cindi pamit untuk pulang ke Boltim. Sebelum pulang, kami menyempatkan bersalaman, bertukar nomor handphone, dan berfoto bersama dengan teman-teman  Mapatik.

“Latihan menulis kali ini sangat berkesan dan banyak sekali ilmu yang kami dapat. Ini yang membuat kami tertarik datang di Tondano. Mudah-mudahan ilmu yang kami dapat dari pelatihan bersama teman-teman kominitas MAPATIK, akan lebih mempertajam cara penulisan kami,” ujar Cindi Limo.

Sahabatku, Cindi, nampak sangat tergugah dengan kegiatan ini. Ia seolah sulit untuk berpisah dengan para kawan Mapatik.
Sambil, mengucap terima kasih, ia akhirnya iklhas untuk berpisah. Kami pun bisa pulang ke Boltim, setelah dua hari ditempa Mapatik dengan pengetahuan tentang jurnalistik.

Sungguh, belajar ternyata memang indah. Apalagi bila dilakukan dengan ihlas dan penuh semangat.

Pos terkait