BOLTIM, DivaNews.co – Aksi sosial kembali mewarnai ruas jalan raya Kotabunan–Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur pada Sabtu (28/02/2026) sore. Di tengah lalu lintas yang padat menjelang waktu berbuka puasa, sorot perhatian publik tertuju pada figur anggota legislatif yang dikenal dekat dengan masyarakat, Rahman Salehe. Dengan mengenakan peci dan pakaian berlogo PDI-P, ia berdiri di pinggir jalan membagikan ribuan paket takjil kepada para pengendara yang melintas.
Kegiatan itu bukan kali pertama ia lakukan. Bagi Rahman, berbagi telah menjadi bagian dari kebiasaannya jauh sebelum duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Sekarang, sebagai legislator dari PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan I, ia tetap mempertahankan tradisi memberi tanpa pamrih tersebut.
Berbagi sebagai Kebiasaannya yang Telah Mengakar
Di sela-sela kegiatan, Rahman mengatakan bahwa bulan Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi dan dorongan kuat untuk memperbanyak kebaikan.
“Berbagi itu bukan sekadar kewajiban, tapi menjadi kebutuhan batin. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat orang lain tersenyum karena hal kecil yang kita lakukan,” ujarnya.
Warga yang menerima takjil tampak antusias. Banyak di antara mereka mengucapkan terima kasih sambil melanjutkan perjalanan. Seorang pengendara saat di jumpai wartawan media ini mengaku senang karena merasa diperhatikan oleh wakil rakyatnya.
“Beliau memang terkenal suka membantu. Tidak hanya di bulan puasa, tetapi juga di hari-hari biasa. Orangnya sangat rendah hati,” katanya.
Kesan itu tidak berlebihan. Rekam jejak Rahman menunjukkan konsistensi dalam kerja-kerja sosialnya. Masyarakat di wilayah Kotabunan–Tutuyan mengenalnya sebagai sosok yang tidak segan turun langsung ke lapangan. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk pembagian bantuan sosial, telah membentuk citra politisi humanis yang mengedepankan pendekatan personal.
Kerendahan Hati di Balik Jabatan
Di dunia politik yang sering kali dipenuhi dinamika kepentingan, sikap rendah hati Rahman menjadi pembeda. Ia tidak membangun jarak dengan masyarakat. Sebaliknya, ia merawat relasi hangat dengan warga di daerah pemilihannya.
“Saya hanya menjalankan apa yang menurut saya benar. Jabatan ini adalah amanah. Dan amanah itu harus diwujudkan dengan tindakan nyata, bukan hanya janji,” tuturnya.
Menurut sejumlah tokoh masyarakat, kehadiran figur seperti Rahman Salehe memberi warna positif bagi praktik politik lokal. Tradisi berbagi dan turun langsung berinteraksi dengan masyarakat dinilai memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi legislatif.
Bulan Ramadan dianggap menjadi momentum yang sangat tepat untuk mempertegas kedekatan antara wakil rakyat dan konstituennya. Rahman memanfaatkan waktu ini untuk kembali menunjukkan bahwa politik tidak harus selalu identik dengan formalitas, melainkan dapat hadir melalui tindakan sederhana yang berdampak luas.
Pembagian takjil yang dilakukan Rahman juga membawa dampak sosial yang lebih luas. Selain membantu masyarakat yang sedang dalam perjalanan menuju waktu berbuka, kegiatan tersebut mendorong partisipasi anak muda di wilayah Kotabunan–Tutuyan. Banyak relawan muda yang ikut serta membantu menyalurkan takjil. Rahman menilai hal ini sebagai sinyal positif.
“Saya senang melihat anak-anak muda terlibat. Ini bukan soal takjilnya, tapi soal menumbuhkan kepedulian. Semoga kelak mereka menjadi generasi yang tumbuh dengan semangat berbagi dan solidaritas,” ucapnya.
Kehadiran figur panutan seperti Rahman menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa nilai kemanusiaan dapat hadir dalam bentuk aksi sehari-hari. Lewat hal kecil seperti menyerahkan satu bungkus takjil, mereka belajar tentang empati, kebersamaan, dan pentingnya kehadiran di tengah masyarakat.
Kegiatan Rahman Salehe mencerminkan nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Ramadan: menebar kebaikan, mempererat hubungan sosial, dan memupuk rasa syukur. Ia menunjukkan bahwa wakil rakyat tidak hanya bekerja melalui kebijakan, tetapi juga melalui kedekatan emosional dengan masyarakat.
Di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi sebagian warga, langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa kepedulian masih hidup dalam praktik politik lokal. Ramadhan menjadi ruang yang menyatukan kembali harapan, solidaritas, dan kebersamaan.
Saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, aktivitas pembagian takjil berakhir. Namun, pesan moral di balik kegiatan itu terus hidup dalam benak masyarakat: bahwa berbagi tidak membutuhkan alasan besar cukup niat tulus dan kesediaan untuk peduli.
(bry)













