Dinas PPPA Boltim Intens Kampanye Cegah Pernikahan Usia Anak

BOLTIM, DivaNews.co – Gerakan pencegahan perkawinan usia anak atau usia dini terus di galakkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) intens melakukan kampanye sebagai pencegahan pernikahan usia anak. Sebagaiman arahan Presiden Republik Indonesia kepada Kementerian PPPA dari 5 isu prioritas 1 diantaranya adalah menurunkan angka perkawinan usia anak.

Bacaan Lainnya

Mewakili Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto, Kepala Dinas PPPA Iksan Pangalima mengikuti deklarasi dan penandatangaan pakta integritas bersama kepala daerah di 15 kabupaten kota se-Sulut pada momen HUT Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) 23 September 2022 lalu.

Baca Juga :   Pemda dan DPRD Boltim Bahas APBD Tahun 2023

Tierza Junita Damopolii, Kepala Bidang Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, mewakili Kepala Dinas PPPA, mengatakan. Deklarasi pencegahan perkawinan usia anak bentuk kepedulian pemerintah mengingat perkawinan anak bentuk pelanggaran hak anak.

“Pada momen HUT Pemprov Sulut dilakukan deklarasi dan penandatanganan pakta integritas, dan dalam waktu dekat deklarasi cegah perkawinan usia anak kita gelar di Boltim,” ujar Tierza Damopolii.

Sebelum deklarasi lanjut Tierza, Dinas PPPA Boltim akan melakukan sosialisasi bersama anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Daerah (FAD) dengan menggandeng organisasi wartawan di Kabupaten Boltim.

Ia juga menyebut, saat ini angka kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Boltim meningkat seiring dengan sosialisasi yang dilakukan Dinas PPPA di sejumlah Sekolah, tempat ibadah, komunitas anak hingga ke tingkat desa.

Baca Juga :   Singkronisasi Data Kependudukan Jelang Pemilu, Disdukcapil Pekan Depan Turun Lapangan

“Semakin banyak sosialisasi maka semakin banyak kasus, karena masyarakat semakin berani untuk melapor,” sebutnya.

“Ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap Perempuan dan Anak supaya tidak terjadi pernikahan usia anak. adanya sosialisasi ini sehingga sudah banyak yang melapor,” pungkas Damopolii.

(redaksi)

Pos terkait