BOLTIM, DivaNews.co – Sebuah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur atau di kenal dengan Boltim yang kaya akan kearifan lokal, kembali merayakan perayaan khasnya yang mendalam yakni Halal Bi Halal atau hari raya sunat yang diwarnai dengan Ketupat digelar oleh warga masyarakat di 7 Kecamatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Boltim yang seiring dengan bertambahnya usia, kegiatan ini tidak hanya menjadi sekedar ritual, tetapi juga menjadi representasi dari kebersamaan dan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi yang Terjaga dengan Kokoh
Ketupat Boltim tidak sekadar tentang memasak dan menyantap ketupat, tetapi lebih jauh dari itu. Ia adalah cermin dari keuletan dan kearifan lokal masyarakat Boltim dalam menjaga tradisi nenek moyang. Proses pembuatan ketupat, yang melibatkan tekad dan keterampilan, menjadi titik tolak dalam mewujudkan kebersamaan dan semangat gotong royong yang tak ternilai harganya.

Makna Simbolis yang Dalam
Di balik kerumitan anyaman ketupat, terdapat makna-makna yang dalam dan mendalam. Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol keberkahan dan kesuburan. Dalam budaya warga Boltim, ketupat melambangkan kesatuan, keharmonisan, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Hari Raya Ketupat di Bolaang Mongondow Timur Menyatukan Perbedaan
Ketupat di Bolaang Mongondow Timur ini tidak hanya menjadi milik satu kelompok atau satu suku, tetapi menjadi milik bersama seluruh masyarakat Boltim. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan-perbedaan dan menyatukan dalam kebersamaan. Melalui proses pembuatannya yang memerlukan kerjasama dan kolaborasi, Ketupat membuktikan bahwa keberagaman adalah kekuatan.

Momen Kebesaran yang Dirayakan Bersama
Setiap tahun, masyarakat Bolaang Mongodow Timur berkumpul di tiap tiap tempat stand yang di bangun bersama ada juga di dalam rumah bahkan depan rumah dalam perayaan Ketupat dengan penuh sukacita. Ada dari mereka mengenakan pakaian adat, pakaian baru menikmati sajian tradisional, dan merayakan kebersamaan dalam nuansa kegembiraan yang tak terlupakan. Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga momen untuk memperkokoh solidaritas dan persaudaraan di antara warga Bolaang Mongondow Timur.
Dari 7 Kecamatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur sudah lima kecamatan yang merayakan; yakni Kecamatan Modayag, Kecamatan Kotabunan, Kecamatan Modayag Barat, Desa Buyat bersatu dan Kecamatan Tutuyan dengan hari yang berbeda-beda, sedangkan 2 Kecamatan, Kecamatan Nuangan di jadwalkan hari Selasa besok dan Kecamatan Mooat merayakannya pada hari Rabu.
Menghidupkan Warisan Budaya
Dalam era modernisasi yang terus berlangsung, Ketupat menjadi salah satu cara untuk menjaga kelestarian budaya lokal. Melalui upaya kolektif masyarakat Boltim, tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan kebanggaan lokal.

Hari Raya Ketupat Warisan yang Abadi
Ketupat bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah warisan yang membawa makna dan kebanggaan bagi masyarakat Boltim lebih khusus warga masyarakat Desa Bulawan Bersatu dan Desa Kotabunan Bersatu. Di balik setiap anyaman ketupat, terdapat cerita-cerita leluhur yang terus dikenang dan diabadikan. Ia adalah penanda keberlanjutan budaya dan kehidupan bermasyarakat yang mengalir dalam darah masyarakat.
Perayaan Ketupat bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga perwujudan dari kekayaan budaya dan semangat kebersamaan yang terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Boltim setiap tahun setelah melaksanakan Puasa di Bulan Ramadhan kemudian berhari raya Idul Fitri.
Perayaan hari raya ketupat setiap tahunnya di masing-masing Kecamatan adalah kebahagiaan warga masyarakat sebab Bupati Sam Sachrul Mamonto bersama Kepala Kepala OPD sekaligus Aparatur SIpil Negara (ASN) wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur ini turut berbaur bersama masyarakat sehingga moment kemeriahan setiap Desa di Kecamatan itu membawa kabar indah yang sulit di lupakan.
(Bry)













