Dikbud Boltim Data Siswa Putus Sekolah Disetiap Desa, Ini Tujuan Pemerintah

BOLTIM, DivaNews.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) melakukan pendataan siswa putus sekolah disetiap desa.

Pendataan dilakukan untuk di ikutkan kesetaraan paket A, B dan C. Hal ini dalam rangka menekan angka anak putus sekolah di wilayah timur totabuan Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Bacaan Lainnya

Pemerintah Daerah (Pemda) melalui dinas Dikbud sedang melakukan pendataan sejak pekan kemarin. Demikian disampaikan Kepala Dinas Yusri Damopolii.

Baca Juga :   Sehan Tegaskan Sangadi Buat Perdes Tentang Larangan Perusakan Hutan

“Sejauh ini sudah terdapat 1647 lebih orang yang tercatat dalam usia putus sekolah setara paket A, paket B, dan paket C sebagai siswa program kesetaraan di SPNF SKB,” ujarnya.

Dikatakannya, mereka yang telah tercatat nantinya akan dibagi di 10 pusat pembelajaran yang tersebar di semua kecamatan se-Boltim.

“Mereka akan mengikuti proses pembelajaran berdasarkan program kesetaraan yang telah diatur oleh SPNF SKB masing-masing. Dalam 1 semester program kesetaraan itu hanya 18 kali pertemuan. Jadi mereka akan mengikuti proses belajar tatap muka sebanyak 18 kali dalam enam bulan,” jelasnya.

Dalam pendataan siswa, Dikbud turut melibatkan Bidang PNFI, Bidang Kebudayaan, Bidang PTK, Sub Bagian Kepegawaian, SPNF SKB, serta beberapa kepala sekolah di desa masing-masing.

Baca Juga :   Kesiapan Belajar Tatap Muka di Boltim Terus Dimatangkan Disdikbud

“Target kami 2000 an yang ikut paket A,B dan C. Pada intinya Pemerintah menginginkan seluruh masyarakat itu tidak ada yang putus sekolah, dan kedepannya bisa mengantongi ijazah SMA,” jelasnya.

“Ijasah ini penting untuk lapangan kerja, ataupun tuntutan kebutuhan. Makanya Kita mengadeng para Sangadi untuk melakukan data di setiap desa,” ucap Kabid PNF Hariyanto Mamonto. Rabu, (14/9/2022)..

Saat ini pihaknya dalam proses pendataandan penyusunan jadwalnya, karena akan dimasukkan di Dapodik.

“Untuk wilayah pesisir di SKB Tutuyan, Wilayah Pengunungan di SKB Modayag,” jelasnya.

“Adapun data angka putus sekolah Tahun 2021 sebanyak 0,03 persen, sementara di tahun 2022 menurun 0.01 persen, nah ini ada penurunan angka putus sekolah melalui program penyetaraan. Sehingga, program ini tentu sangat memberi kontribusi dari aspek peningkatan rata-rata lama sekolah, maka, setiap tahun kita lakukan pendataan. Kami juga menyediakan biayanya pengganti transportasi bagi peserta,” jelas Mamonto.

Baca Juga :   Kekurangan 470 Tenaga Pendidik, Kabid Ruhimat Harap Masyarakat Boltim Memanfaatkan Ruang Rekrutmen Guru Kontrak

(redaksi/*)

Pos terkait